Melihat Candi Ceto Karanganyar, Jawa Tengah, Peninggalan Raja Majapahit Sebelum Moksa Bersama Sang Abdi Sabdo Palon Nayagenggong (-1)

271
Candi Ceto di teras ketiga. Nampak arca menyerupai kura - kura yang diyakini sebagai lambang Surya Majapahit. Foto (istimewa, piknik asyik)
Candi Ceto di teras ketiga. Nampak arca menyerupai kura - kura yang diyakini sebagai lambang Surya Majapahit. Foto (istimewa, piknik asyik)

Candi Ceto yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah menyimpan sejarah penting dalam perjalanan kerajaan Majapahit. Candi yang berlokasi di areal Gunung Lawu itu, dipercaya sebagai tempat moksa  Raja Majapahit Brawijaya V dan abdinya Sabdo Palon Nayagenggong

Seperti apa?

OKA SURYAWAN, Karanganyar

Menuju candi Ceto di dusun Ceto, desa Gumeng, kecamatan Jenawi, kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah harus melewati hektaran kebun teh di kanan kiri jalan. Pengunjung yang mengendarai bus besar tidak bisa langsung ke lokasi candi Ceto karena jalan yang dilalui sangat sempit, penuh tanjakan dan banyak tikungan tajam.

Sebagai penganti bus besar sudah disediakan transportasi bus mini yang memang diperuntukan bagi pengunjung candi yang tingginya kurang lebih 1.497 meter dari permukaan laut itu.

Melewati lokasi tanjakan, para penumpang sering kali menahan nafas akibat medan yang cukup  ekstrim. Bahkan berbagai teriakan histeris sering terdengar dari penumpang selama perjalanan.

“ Kita sudah terbiasa dengan medan seperti ini. Tolong tenang. Sebentar kita sampai,” kata Rahmat, sopir bus mini yang mengantar Balikawi.com dan rombongan beberapa waktu lalu.

Benar saja, tak berselang lama, bus sampai di areal parkir Candi Ceto. Selanjutnya rombongan menuju tempat penyewaan selendang. Pihak pengelola mewajibkan pengunjung memakai selendang saat memasuki areal suci tersebut. Kebanyakan selendang yang disediakan berwarna poleng (hitam- putih).

Begitu menginjakan kaki pertama kali di areal candi, nuansa magis begitu terasa. Candi peninggalan raja Majapahit itu seperti negeri diatas awan. Melangkah agak ke dalam, nampak petilasan Ki Agung Krincingwesi, salah satu leluhur warga Ceto. Disana, rombongan sembahyang mohon ijin untuk memasuki candi lebih ke dalam.

Sehabis petilasan Ki Ageng Krincingwesi, terdapat arca menyerupai kura – kura. Kondisinya sudah tidak utuh. Tapi bentuknya tetap terlihat dari lekukan bebatuan yang masih menempel. Kura – kura tersebut adalah lambang surya Majapahit yang kalau di Bali lebih dikenal dengan sebutan bedawang nala. Patung tersebut melambangkan dasar bumi yang terdiri dari tujuh lapisan.

Informasi yang dikumpulkan balikawi.com, areal Candi Ceto asalnya terdiri  dari 14 teras atau bagian. Namun, saat dilakukan pemugaran jumlahnya berkurang menjadi 9 teras.

Oleh warga sekitarnya, selain dipercaya sebagai tempat moksanya raja Brawijaya bersama abdinya Sabdo Palon dan Nayagenggong, candi yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1451 sampai 1470 oleh raja Majapahit Brawijaya V itu dipercaya sebagai tempat ruwatan. (bersambung)