Melihat Sendang Gumuk Kancil Banyuwangi, Jatim yang Berkembang Menjadi Obyek Wisata Spiritual

84
Sendang Gumuk Kancil yang terletak di Banyuwangi Jatim sering dikunjungi warga untuk melukat
Sendang Gumuk Kancil yang terletak di Banyuwangi Jatim sering dikunjungi warga untuk melukat

Nama sendang Gumuk Kancil belakangan sangat populer sebagai obyek wisata spiritual. Sendang peninggalan brahmana suci Rsi Markandya itu banyak dikunjungi warga Bali dan luar Bali untuk berwisata sambil melukat. Seperti apa?

OKA SURYAWAN, Banyuwangi

Nama dusun Wonoasih, desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur mendadak viral di media sosial. Pasalnya, di areal desa yang banyak hutannya itu terdapat sendang Gumuk Kancil yang sering dijadikan tempat melukat atau menggelar ritual.

Di sendang yang luasnya kurang lebih setengah hektar itu, ada banyak pancoran yang punya tuah masing -masing. Pancoran paling bawah berjumlah delapan pancoran yang bisa digunakan untuk mandi. Selanjutnya ada sepuluh pancoran yang diyakini bisa menghilangkan berbagai penyakit. Setelah itu ada sebelas pancoran.

Bagi warga yang melukat, sudah disediakan kain berwarna kuning yang dipakai saat melukat. Warna kuning dalam keyakinan Hindu adalah lambang Dewa Mahadewa atau Dewa Siwa yang menghuni alam pascima atau barat dalam Panca Dewata.

I Ketut Wiryana pemangku beji Gumuk Kancil kepada Balikawi.com menuturkan, ada berbagai jenis panglukatan yang punya fungsi tersendiri.

“ Ada yang sakit, begitu habis melukat langsung sembuh seketika, ” kata Jero Mangku Wiryana.

Jero Mangku asal Penyaringan Jembrana itu menyebutkan, penataan beji Gumuk Kancil membutuhkan waktu yang cukup lama dan berliku. Mulai dari proses ijin di kementerian kehutanan sampai sosiallisasi kepada warga sekitarnya.

“ Karena ada tuntunan dari Beliau ( yang bersthana di beji Gumuk Kancil-red) semua proses bisa dilalui,” sebutnya.

Bapak tiga anak, tiga cucu itu menambahkan, penataan areal beji dilakukan mulai tahun 2007 yang dilakukan secara bertahap. Di arel sendang keramat itu ada enam buah patung. Dari enam patung tersebut, lima diantaranya adalah patung dewi yaitu Dewi Sri, Dewi Parwati, Dewi Saraswati, Dewi Gangga dan Dewi Gayatri. Satu patung lagi adalah patung Maha Rsi Markendya.

“ Selanjutnya secara bertahap juga dibangun tempat penglukatan dan tirta tempat pengobatan,” kata Jero Mangku.

Sebelum penataan areal Beji Gumuk Kancil, Jero Mangku Wiryana mengaku mendapat tuntunan dari lelangit yang bersthana di wilayah Gunung Raung untuk melakukan perjalanan suci sampai ke Vetnam. Hal ini tidak lepas dari perjalanan Rsi Markendya sebelum sampai ke tanah Jawa dijamannya.

Lantas adakah bantuan dari pemerintah di Bali? Mantan pegawai BPKP itu tersenyum ketus.

“ Belum. Soal bantuan itu soal keikhlasan,” jawabnya singkat.

Ditanya soal banyaknya warga yang datang melukat, Jero Mangku Wiryana mengaku banyak yang datang dari Bali. Biasanya warga Bali banyak datang saat liburan.

“ Saya tidak memasang reklame agar orang banyak yang datang. Ini soal keyakinan,” ujarnya.

Petilasan beji Gumuk Kancil di Banyuwangi adalah salah satu dari sekian banyak peninggalan Rsi Markendya. Di Bali, brahmana suci yang diyakini berumur ribuan tahun itu juga memiliki petilasan, seperti Pura Sabang Daat Puakan Taro, Pura Gunung Raung Tari, Pura Gunung Lebah Campuhan Ubud dan lainnya. habis*****